Subak, Sistem Pertanian Indonesia asal Bali

Subak, Sistem Pertanian Indonesia asal Bali

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki banyak sistem pertanian yang sangat beragam.  Sistem pertanian ini mengacu dari sistem pertanian kuno, hingga pertanian modern. Beras, sebagai bahan makanan pokok masyarakat Indonesia menjadi komoditas utama dari pertanian Indonesia. Hal ini membuat sebagian masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya untuk bercocok tanam dan bertani produk beras. Tak ayal, Indonesia memiliki banyak sawah yang cukup melimpah dan menghampar hampir di tiap kotanya.

Indonesia yang berdiri sebagai negara kepulauan, membuat sistem pertanian dan persawahan yang ada di Indonesia memiliki kemajemukan. Tidak hanya itu, kondisi geografis, perbedaan cuaca, lahan, perbedaan dataran tinggi dan juga dataran rendah juga menjadi salah satu faktor perbedaan sistem pertanian dan persawahan di Indonesia. 

Bali, sebagai salah satu daerah yang memiliki pertanian yang cukup subur telah memiliki sistem pertanian yang cukup tertata dan terorganisir. Sistem pertanian ini telah dipertahankan oleh masyarakat Bali sejak abad ke 11 silam dan masih digunakan hingga saat ini. Sistem pertanian ini dikenal juga dengan nama sistem Subak. Subak telah dikenal masyarakat Bali sejak dahulu dan sudah dibuktikan dalam beberapa tulisan seperti yang mendukung. UNESCO, sebagai salah satu organisasi budaya dunia telah memberikan predikat warisan budaya dunia kepada sistem Subak di Bali.

Sistem Pertanian Subak di Bali
Sumber Gambar: benarnews.org

Subak sendiri merupakan sebuah sistem maupun tata kemasyarakatan yang secara khusus mengatur sistem pengairan untuk kegiatan pertanian dan persawahan di daerah Bali. Biasanya Subak dibangun dekat sumber mata air, dimana mata air ini nantinya akan dikelola dan digunakan secara bersamaan untuk mengairi persawahan dan pertanian sekitar. Hal penting lainnya yang biasanya wajib dalam Subak adalah sebuah Pura yang memang dibangun oleh para petani ataupun pemilik lahan untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri (Dewi Kesuburan). Sistem ini juga memiliki seorang pemimpin yang dikepalai oleh pemangku adat setempat yang juga berprofesi sebagai petani. Biasanya, pemimpin ini selalu memberikan arahan dan juga aturan agar sistem ini berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana yang diharapkan.

Baca juga: Pulau Dewata, Lebih Dari Sekadar Memoar

Sistem subak yang masih dipertahankan masyarakat Bali ternyata memiliki kandungan serta nilai filosofis bagi tuntunan kehidupan manusia yang sangat baik. Sistem subak ini memiliki nilai filosofis yang dikenal dengan sebutan Tri-Hita Karana. Tri-Hita Karana memiliki arti, tiga pilar utama yang menuntun pada kesejahteraan. Tiga poin utama itu antara lain:

  • Parahyangan: Keseimbangan antara kehidupan manusia dan Tuhan
  • Pawongan: Keseimbangan antara kehidupan manusia dengan sesama
  • Palemahan: Keseimbangan antara kehidupan manusia dengan alam

Banyak masyarakat Bali yang masih percaya bahwa kehidupan manusia harus harmonis dan dijaga dengan baik. Tidak hanya itu, masyarakat Bali juga percaya untuk selalu bekerja dan mengelola tanah dan air secara berkelanjutan. Namun, mereka semua mengembalikan kepercayaan itu kepada para Dewa dan Dewi yang memiliki kuasa akan kehidupan. Maka dari itu, penting rasanya bagi masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan keseimbangan alam supaya kita sebagai manusia juga bisa merasakan dampak langsung dari alam terhadap kehidupan kita. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
22 + = 31

shares