Pulau Dewata, Lebih Dari Sekadar Memoar

Pulau Dewata, Lebih Dari Sekadar Memoar

Saya masih ingat betul rasanya. Suasana ini berlangsung di medio 1950-an. Udara pagi sejuk berhembus. Hamparan sawah yang hijau terbentang luas. Beberapa warga setempat sudah keluar dari rumah, beranjak untuk menyambung hidup melalui hal apapun yang bisa mereka kerjakan hari itu. Pulau Dewata telah memberikan kesan yang melekat hingga hari ini.

Termasuk menjadi seorang petani.

Begitu juga dengan ayah saya yang tak mau kalah untuk bangun sangat pagi hari itu, atau lebih tepatnya ia memang melakukannya setiap hari. Sama seperti kebanyakan warga di Desa Sidan, Kabupaten Gianyar, Bali, ayah saya jugalah seorang petani. Sementara ibu saya merupakan pedagang kelontong.

Sebelumnya, ayah juga bekerja sebagai pedagang. Sebagai satu-satunya orang yang melek aksara Bali di desa, ayah pun sempat berencana diangkat menjadi seorang pemangku agama. Ayah sempat menolaknya kala itu. Hingga akhirnya ia sempat kejatuhan buah kelapa dan mendapat sebuah mimpi! 

Mimpi yang membuatnya tak kuasa menolak ajakan menjadi seorang pemangku agama. 

Sambil menjadi petani, ayah juga diangkat menjadi seorang pekasih di desa. Pekasih merupakan orang yang mengatur sistem perairan. Padi menjadi komoditas utama ayah dan banyak petani lainnya di desa kala itu. 

Di tengah kesibukan saya menuntut ilmu di sekolah, ikut membantu ayah di sawah menjadi salah satu kegiatan saya saat masih kecil dulu. Pagi-pagi buta, sebelum berangkat ke sekolah, saya membantu ayah di sawah. Mengamati aliran air di sana sekaligus mandi di bawah pancuran air yang jernih. Airnya dingin, menghapus rasa kantuk yang mendera dalam sekejap. Hanya sedikit dari anak-anak seumuran saya di desa yang pergi bersekolah kala itu. Kebanyakan dari mereka memilih menghabiskan waktu membantu pekerjaan orang tuanya.

Ayah menjadi figur yang sadar akan pentingnya pendidikan. Hal itulah yang membuatnya tak ingin jika anak-anaknya hanya menghabiskan waktu di ladang seharian. Meski memang kala itu, menjadi petani merupakan salah satu pekerjaan yang dipandang, terutama jika Anda memiliki lahan yang luas.

Hidup sehari-hari di tengah bidang pertanian membuat desa kami juga tak lepas dari kehadiran para tengkulak. Mereka tidak melulu kami pandang sebagai kelompok yang terus-menerus menggerus keuntungan dari kami. TIdak. Kami tak selalu berpikiran negatif terhadap mereka.

Karena tak bisa kami pungkiri juga jika kami benar-benar menggantungkan hidup kami kepada mereka kala itu.

Tengkulak pun menjadi destinasi selanjutnya bagi hasil panen yang didapat para petani di desa saya. Dari para tengkulak itu lah kami semua bisa benar-benar menikmati hasil dari jerih payah kami selama ini.

Bali dan Masyarakatnya

Semakin bertambah dewasa, saya semakin dalam mengamati aspek-aspek sosial yang menyelimuti masyarakat di Gianyar atau bahkan Bali secara keseluruhan. Hal-hal yang sebelumnya terasa ringan ternyata jadi menarik jika diperhatikan lebih seksama.

Sejak dulu, masyarakat Bali sudah terkenal akan sistem gotong-royong yang selalu mereka terapkan dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Hal itu tercermin dalam persiapan berbagai upacara keagamaan yang rutin mereka adakan, seperti Odalan

Saya juga mengamati bahwa perbedaan bukanlah suatu masalah bagi masyarakat di Pulau Dewata. 

“Meski memang didominasi oleh agama Hindu sejak dulu, tidak ada jarak yang benar-benar nyata antara para pemeluknya dengan penganut agama lain.

Waktu itu, Desa Sidan juga diisi oleh sejumlah pedagang dari luar Pulau Dewata, seperti Jawa dan Sumatera. Perbedaan yang mereka bawa tidak menjadi masalah dalam interaksi sosial di antara kami.

Perubahan besar dalam kultur sosial mulai saya rasakan pada 1970-an. Budaya seperti remaja laki-laki yang memakai anting dan menenggak minuman keras mulai marak ditemukan di desa-desa di Bali. Saya rasa fenomena baru ini bukan datang dari turis mancanegara yang memang sudah sejak lama menginjakkan kakinya di Bali. Tapi ini bisa saja datang dari masyarakat di kota besar seperti Denpasar yang kemudian singgah di desa.

Semakin ke sini, di luar kultur sosial, bidang pekerjaan pun juga mulai berevolusi di Bali. Sejumlah pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan kasar mulai ditinggalkan oleh mereka yang memasuki usia produktif: kegiatan menumbuk padi misalnya. Mereka mulai beralih ke bidang lain seperti membuka usaha sendiri atau mengadu nasib menjadi pegawai. Saya merasakan, memasuki pertengahan 1990-an, jumlah mereka yang bekerja sebagai petani kian berkurang.

Meski begitu, entah kenapa saya selalu merasa jika pada satu titik, sektor pertanian Bali memiliki keunggulan yang tidak dimiliki di daerah lain. Menurut saya, daerah ini sangat cakap dalam mengolah hasil alam, meski memang didatangkan dari wilayah luar pulau. Anggur misalnya. Siapa tak kenal kualitas olahan anggur dari daerah Singaraja?

Pesan untuk Bali

Kembali ke Bali? Ah, saat ini belum terpikirkan oleh saya. Usia yang semakin senja serta sudah tidak adanya orang tua di sana membuat saya belum memiliki alasan yang sangat kuat untuk pulang ke Pulau Dewata.

Tapi jika saya bisa berpesan kepada saya yang masih muda dan waktu itu tumbuh besar di Bali, saya justru memilih menyoroti masalah kegiatan kemasyarakatan yang dulu sering diadakan di desa-desa. 

Sebelumnya saya sudah berbicara mengenai semangat gotong-royong masyarakat Bali. Tapi justru seringkali, sistem gotong-royong itu bisa menjadi bumerang bagi kami. Akan ada pemimpin desa kala itu yang selalu mewajibkan warganya untuk terlibat dalam setiap kegiatan demi mewujudkan ambisinya menjadikan wilayah yang dipimpinnya sebagai yang terbaik.

Ibaratnya, sebuah pekerjaan yang mestinya bisa diselesaikan hanya dengan 10 orang, namun harus dikerjakan oleh lebih dari 50 orang. Jika ada yang tidak ikut, bakal dikenakan denda, meski tengah sakit sekalipun.

Semoga kondisi-kondisi seperti itu sudah tidak lagi berlanjut di sudut-sudut Bali hari ini.

Ah, membicarakan Bali memang tidak pernah ada habisnya. Di tengah baik-buruknya cerita Pulau Dewata, Bali akan selalu menghadirkan kenangan tersendiri bagi saya. Menumbuhkan rasa geli akan ingatan cerita lucu di masa kecil. Namun juga melahirkan nuansa sedih dalam memori pilu di masa lalu.

Akhirnya, menyadari bahwa saya pernah benar-benar menjadi bagian dari Bali, selalu menenangkan hati saya.

oleh 

Nyoman Tjenik Suastha

Seorang pensiunan dosen

Sebuah tulisan yang diolah oleh tim TaniHub, hasil dari wawancara komprehensif yang dilakukan dengan narasumber terkait. Topik yang dibawakan beragam dan menggunakan sudut pandang dari narasumber langsung untuk membawakan cerita secara lebih dekat.

One Reply to “Pulau Dewata, Lebih Dari Sekadar Memoar”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
29 − 19 =

shares