Mengkhayalkan Bali, Memimpikan Kesempurnaan

Mengkhayalkan Bali, Memimpikan Kesempurnaan

Cerita tentang seseorang yang belum pernah pergi ke Bali tentu sudah sering Anda dengar. Memang secara logika, tak ada yang spesial dengan itu. Toh, memang tak ada pula peraturan yang mewajibkan seseorang untuk pergi ke Bali.

Tapi bagi saya yang juga belum pernah pergi ke sana, Bali sepertinya terlalu indah untuk dilewatkan. Terlalu cantik untuk dibiarkan. Terlalu berkesan untuk diabaikan.

Lalu, bagaimana jika saya mengajak Anda yang memiliki kondisi serupa, untuk sama-sama berkhayal seperti apa rasanya berkunjung ke Pulau Dewata?

Mari kita mulai.

Bali tak ubahnya adalah sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin sebuah pulau sekecil itu bisa menawarkan paket lengkap keindahan yang terdiri dari hamparan pantai super eksotis dan sajian budaya magis bercita rasa Nusantara? Bali seperti mampu menampilkan semua keindahan yang dimiliki ibu pertiwi, berjejalan dalam satu lanskap seluas 5.633 km2 .

Ada sisi magis yang ditawarkan Bali melalui unsur budaya yang bersatu dengan ajaran agama Hindu yang memang dominan di sana. Tarian, upacara adat, hingga perayaan sebagai bentuk mensyukuri sebuah rezeki menjadi sebuah epitome kesempurnaan milik pulau beribu pura.

Ada eksotisme otentik berupa hijaunya sawah luas lengkap dengan teraseringnya. Ombak yang berkejaran di pantai-pantai mereka yang sudah mendunia juga membuat Bali selalu menonjol dalam hal pariwisata Indonesia.

Kalian tentu pernah dengar cerita bahwa orang-orang asing dari negara lain lebih familiar dengan Bali dibandingkan dengan negara Indonesia sendiri.

Pengetahuan tentang Bali saya dapatkan dari beragam bahan bacaan dan tontonan. Aspek pop culture  seperti film ikut berandil dalam hal ini. ‘Eat, Pray, Love’ (xxxx) yang dimainkan oleh Julia Roberts menampilkan cerita di Pulau Dewata dan mampu memperkuat narasi di otak saya tentang seperti apa Pulau Dewata itu. Begitu pula dengan bacaan tentang geografi yang mengupas informasi dari suatu pulau atau provinsi. Hal-hal tersebut memang mendekatkan saya dengan Bali.

Kedekatan saya dengan Bali juga terajut berkat interaksi yang saya lakukan dengan masyarakat asli sana yang tinggal di sekitar saya. Saya menyukai wajah-wajah perempuan Bali. Ada kemiripan paras yang juga menenangkan hati yang dimiliki para kaum hawa di sana, dengan yang saya temui di masyarakat Jawa.

Saya juga sudah sering menemukan sosok-sosok ramah dari Pulau Dewata di sekitar saya. Jika dibandingkan dengan orang-orang dari suku saya, Betawi, orang-orang asli Bali punya karakter yang lebih tenang. 

Bagaimana dengan kuliner di sana? Sebagai orang yang punya hobi memasak, rasa penasaran akan cita rasa sajian khas di sana memang memancing saya untuk datang ke Bali.

Ada di antara kalian yang pernah mendengar Sate Babi Bawah Pohon? Menu itu selalu jadi bahan pembicaraan oleh teman-teman saya yang sudah pernah pulang-pergi ke Bali. Saya tentu membayangkan apakah rasanya memang selezat isi percakapan orang-orang selama ini?

Wajah Pariwisata Nusantara

Apakah Bali selama ini telah berhasil menjadi wajah dari industri pariwisata dalam negeri? Saya pribadi setuju dengan anggapan tersebut.

Indonesia memang perlu menciptakan lebih banyak “Pulau Bali” untuk semakin menopang pariwisata mereka. Bahkan bagi saya, tanpa munculnya anggapan di kalimat sebelumnya, Bali dengan sendirinya memang sudah menahbiskan diri sebagai representasi dari dunia wisata Indonesia. 

Bali sejauh ini sudah mengeluarkan semua hal-hal terbaik dari bumi mereka. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, dari mulai hamparan pemandangan alam yang indah hingga ragam kegiatan budaya yang seolah tak ada habisnya, benar-benar menjadi daya tarik Bali.

Hal ini bisa menjadi motivasi tersendiri bagi destinasi wisata di wilayah lain di Indonesia untuk terus berkembang dan mengeluarkan potensinya.

Namun, muncul pula sebuah anggapan tersendiri terkait hubungan antara keistimewaan pariwisata di Bali dengan semakin banyaknya turis yang datang ke sana. Para turis yang datang dari berbagai negara di dunia tentu membawa kultur dari kampung halamannya masing-masing.

Lantas, ada sebagian yang menganggap jika fenomena tersebut lambat laun bisa mengikis nilai-nilai budaya asli Bali dan menutupnya dengan budaya dari negeri asal para pendatang.

Tapi bagi saya, hal tersebut tak akan terjadi. Kebudayaan Bali itu kuat. Kuat selayaknya semangat gotong royong masyarakatnya saat mengarak ogoh-ogoh dalam parade Pangrupukan. Kebudayaan Bali itu otentik dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. 

Maka dari itu, saya selalu merasa jika Bali besar karena budaya mereka. Bali sempat disejajarkan dengan destinasi wisata terbaik dari negara lain. Tapi menurut saya, kebudayaan lah yang membuat rona wajah Bali kian mempesona.

Ah, mengkhayalkan Bali memang tak pernah ada habisnya.

Oleh

Arsal

Seorang kawan, Seorang karyawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
5 + 4 =

shares