Mau coba Urban Farming? Cek hal berikut!

Mau coba Urban Farming? Cek hal berikut!

Urban farming atau pertanian dengan lahan sempit di perkotaan, secara ideal dapat menjadi jawaban ketika kelangkaan bahan pangan melanda daerah tersebut. Selama Perang Dunia ke II di Amerika, para masyarakat menyuburkan kultur urban farming dengan menciptakan lahan tumbuh di halaman belakang rumahnya yang disebut “Victory Garden” atau Kebun Kemenangan.

Hasil panen kebun kemenangan pada masa itu telah berhasil memasok 40% kebutuhan sayuran dan buah ke negara-negara kelaparan. Namun setelah perang dunia berakhir kebun-kebun tak terurus dan berhenti menyuplai kebutuhan pangan masyarakat.

Pada masa sekarang urban farming telah kembali bersinar di Amerika,  dalam beberapa tahun terakhir kota seperti Detroit, Washington, DC, dan San Francisco gencar membuat program urban farming untuk menyokong kebutuhan pangan lingkungan miskin di daerah sekitar. Lalu, bagaimana pergerakan urban farming jika kita menengok Indonesia?

Di Indonesia turunnya jumlah petani, urbanisasi, dan keterbatasan lahan menjadi masalah krusial yang telah lama kita hadapi. Dan, masih banyak yang belum akrab dengan hal ini. Urban farming bisa jadi salah satu solusi atas permasalahan tersebut, apabila diterapkan secara maksimal.

Mau membudayakan urban farming? Bisa dimulai dari kamu. Dan, takperlu jauh-jauh, lahan pekarang sempit di rumahmu dapat dimanfaatkan. Ini yang perlu kamu lakukan saat memulai urban farming.

1. Siapkan lahan dan mulai membeli pupuk kandang

Kamu dapat memulai dengan modal yang sangat minim. Sebungkus pupuk kandang dengan harga sekitar Rp.11.000-Rp.15.000.

2. Mengumpulkan sampah rumah tangga

Sampah rumah tangga akan dibuat sebagai bokashi atau tanah subur. Bokashi dapat diolah dari sampah organik rumah tangga, seperti kulit telor, kopi, kulit pisang hingga dedaunan. Kamu juga bisa membuat air subur dari air fermentasi kelapa.

3. Tentukan apa yang mau ditanam

Mungkin kamu bisa memulai dengan menanam jenis sayur-sayuran seperti terong dan cabai yang perlu ditanam hanya dengan menaburkan bijinya di tanah subur.

4. Pilih medium tanam

Kamu bisa mencoba membuat kotak tanaman atau menanam vertikal pada batako yang ditumpuk ke atas seperti peletakan tanaman vertikal.

Nah, bagaimana? Cukup mudah bukan? Selain bermanfaat bagi ketahanan pangan, urban farming juga membantu mengurangi sampah rumah tangga. 

Fakta menarik lainnya, sebuah studi di Belanda mengatakan bahwa berkebun dapat menangkal stres, bahkan lebih baik daripada kegiatan relaksasi lainnya.

Studi lainnya di Norwegia menyebutkan bahwa berkebun mungkin membantu memperbaiki gejala-gejala depresi.


Share pendapat atau masukan kamu mengenai inovasi urban farming ini?

One Reply to “Mau coba Urban Farming? Cek hal berikut!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
31 − = 26

shares