Masa Depan Petani Adalah Pertanian Digital

Masa Depan Petani Adalah Pertanian Digital

Kebayang nggak jika komputer bisa menjadi solusi dari aktivitas yang kebanyakan orang anggap sebuah profesi kuno? Hal tersebut yang dipikirkan oleh The Media Lab’s Open Agriculture, atau OpenAg sebuah organisasi yang memiliki tujuan untuk memudahkan masyarakat dan petani dalam mengelola hasil taninya melalui pertanian digital.

Dengan menciptakan sebuah komputer yang dapat mengendalikan dan merekam formula terbaik dari proses kita mulai menanam hingga panen. Cita-cita besar mereka sih, komputer ini dapat menjadi platform jaringan global bagi petani agar dapat menyimpan, mengunduh dan menerapkan formula pertanian terbaik dari beragam kondisi cuaca di seluruh dunia yang sudah diuji coba oleh komputer ini.

The Mit Media Lab sendiri punya tim ultra profesional yang terdiri dari para insinyur, ekonomis, arsitek, ilmuwan, hingga penata kota. Mereka berkolaborasi untuk menjawab satu pertanyaan: Kenapa harus mengimpor makanan? Kalau kamu bisa mengimpor kondisi iklim tiruan ke daerah mu yang akan cocok dengan tanaman yang kamu ingin budidayakan.

Ide tersebut pertama kali dicetuskan saat founder OpenAg melakukan perjalanan singkat ke Jepang, tepat setelah Fukushima mengalami insiden nuklir. Saat itu, lahan pertanian di Jepang paling terkena dampaknya. Lantaran, racun sisa insiden nuklir tersebut memengaruhi lahan dan merusak kondisi cuaca di daerah sekitar. Hal itulah, yang membuat ia mencari solusi cepat atas kejadian ini. 

Saat ini The OpenAg sedang menciptakan Food Computer di mana komputer tersebut berfungsi sebagai pengontrol untuk keseluruhan pertanian digital dengan soil-less technology (hidroponik dan aeroponik). Elemen penting dalam pertanian seperti temperatur, kelembaban, hidrogen, oksigen larut, dan karbondioksida diatur oleh Food Computer yang akan menghasilkan berbagai macam formula untuk diterapkan pada lahan pertanian.

Formula yang dibuat oleh Food Computer berdasarkan beragam kondisi cuaca yang mempengaruhi kualitas, ukuran, nutrisi dan kandungan yang dihasilkan pada saat panen. Nah, formula-formula ini akan menjadi panduan bagi para petani di seluruh dunia untuk mengelola lahannya dengan iklim yang berbeda-beda.

Wah, kebayang nggak ya kalau teknologi ini diterapkan di Indonesia? Apa para petani di Indonesia membutuhkan teknologi seperti ini? Share di kolom komentar, ya!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares