Konsep Urban Farming untuk Masa Depan Lingkungan!

Konsep Urban Farming untuk Masa Depan Lingkungan!

Masih banyak yang berasumsi, jika tinggal di kawasan perkotaan maka tidak bisa melakukan kegiatan berkebun. Namun, hal ini dibantah dengan munculnya sistem perkebunan di tengah kota atau yang biasa dikenal dengan istilah urban farming. Urban farming sendiri berarti memanfaatkan ruang terbuka menjadi lahan hijau yang produktif.

Tentunya akan ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari kegiatan urban farming ini. Adapun, manfaat yang didapatkan dari kegiatan urban farming ini adalah; manfaat kesehatan, manfaat ekonomis serta manfaat bagi lingkungan. Tidak hanya bercocok tanam, kegiatan ternak serta budidaya juga masuk ke dalam bagian urban farming. 

Sempitnya lahan tanam di kota-kota besar, membuat kegiatan urban farming dapat dilakukan dimana saja seperti; pekarangan rumah, perkantoran, balkon bahkan atap rumah. Salah satu bukti nyata keberhasilan urban farming adalah rusun marunda dan rusun besakih yang sudah sukses memanfaatkan peluang bisnis dari urban farming.

Dibawah ini adalah beberapa jenis tanaman yang dapat dibudidayakan dalam kegiatan urban farming. 

  1. Sayuran hijau: Sawi, Selada, Seledri, Pak Choy, Kucai, Bayam hingga Kangkung.
  2. Tanaman herbal rempah: Jahe, Lengkuas, Sereh.
  3. Umbi-umbian: Ketela, Singkong, Talas.
  4. Buah-buahan: Tomat, Anggur, Strawberry, Cabai, Melon, Timun.
  5. Tanaman hias.

Tidak hanya tanaman, kegiatan urban farming juga mencakup kegiatan ternak dan budidaya. Beberapa hewan yang dapat diternak antara lain: Ayam, Kelinci, hingga Ikan.

Konsep urban farming sendiri sama seperti beternak dan bercocok tanam pada umumnya, namun yang menjadi perbedaan mendasar disini adalah, kegiatan ternak atau cocok tanam dilakukan dengan memanfaatkan ruang terbuka yang ada semaksimal mungkin.

Stigma repot dan sulit mungkin masih melekat dalam melakukan kegiatan cocok tanam. Namun, urban farming merupakan kegiatan bercocok tanam yang sangat mudah. Dengan memanfaatkan barang-barang tidak terpakai seperti; kaleng cat bekas, paralon, hingga botol air bekas dapat digunakan sebagai wadah penanaman. Untuk media penanaman sendiri, dapat menggunakan media non tanah seperti: Sabut kelapa, arang, hingga sekam. Perawatan dalam konsep urban farming ini dapat dikatakan mudah karena cukup disiram setiap hari serta diberi pupuk non kimia. Urban farming juga menerapkan konsep zero waste, karena sisa-sisa sampah dapur dapat dijadikan pupuk alami bagi tanaman.

Banyak metode yang dapat dilakukan dalam melakukan kegiatan urban farming. Diantaranya adalah:

  1. Metode Vertikultur: Budidaya menanam secara vertikal menggunakan paralon atau botol secara bertingkat di ruang yang sempit. Tanaman yang cocok menggunakan metode ini antara lain: Seledri, Bayam, Sawi, Kucai, Anggur, Strawberry.
  2. Metode Hidroponik: Budidaya menanam dengan menggunakan air tanpa tanah serta memperhatikan unsur hara. Tanaman yang cocok menggunakan metode ini antara lain: Selada, Timun, Melon dan tanaman herbal rempah.
  3. Akuaponik: Proses budidaya yang menggabungkan antara konsep budidaya menanam dengan budidaya perairan (Ikan) yang bersifat simbiotik. Tanaman yang cocok untuk menggunakan metode ini antara lain: Kangkung, Pak Choy, Selada dan juga Ikan seperti lele, mujair dan ikan mas.
  4. Wall Gardening: Pada dasarnya, konsep wall gardening hampir sama dengan metode vertikultur. Hanya saja, yang menjadi perbedaan adalah, metode ini menggunakan dinding sebagai media tanam. Tanaman yang cocok untuk menggunakan metode ini antara lain: Tomat, Cabai, Umbi-umbian serta berbagai jenis tanaman hias.

Urban farming sendiri memiliki banyak manfaat bagi para masyarakat dan lingkungan. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Manfaat ekonomis: Dengan melakukan urban farming, kita mampu menghasilkan bahan pangan yang bisa dikonsumsi sendiri ataupun dijual dalam jumlah mikro. 
  2. Manfaat kesehatan: Hasil panen dari urban farming sendiri dapat dikontrol dan diawasi sendiri mulai dari penanaman hingga panen. Penggunaan bahan kimia berbahaya dapat kita atasi dengan menggunakan pupuk organik, sehingga hasil panen yang dikonsumsi pun terjamin kesehatannya.
  3. Manfaat bagi lingkungan: Tidak hanya untuk diri sendiri, urban farming juga memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi lingkungan sekitar. Dengan melakukan kegiatan cocok tanam di perkotaan, dapat mereduksi polusi lingkungan, menambah keasrian lingkungan serta mengurangi sampah rumah tangga (diolah menjadi pupuk organik). Selain itu, hasil panen dari Urban farming dapat mencukupi kebutuhan pangan sehat di lingkungan sekitar.  

Sudah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk mengaplikasikan urban farming untuk diri kita sendiri dan lingkungan. Bagaimana? Tertarik mencobanya? Jika kalian tertarik untuk mengenal konsep urban farming lebih jauh, datang dan hadiri Tani Talks, tanggal 24 September 2019 atau kalian juga bisa mendapatkan bibit tanaman gratis pada car free day tanggal 22 september 2019. Bertani menjadi semakin mudah, semua bisa jadi petani. 

#SayaJugaPetani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
87 − 83 =

shares