Kisah Apel Dan Anak Muda Kreatif

Kisah Apel Dan Anak Muda Kreatif

Ukuran tubuh yang lebih kecil dari saudara jauhku lainnya tidak membuatku terpinggirkan. Nyatanya, aku tetap jadi favorit, terutama untuk mereka yang menggemari buah dengan rasa sedikit asam.

Akulah Si Apel Malang

Aku adalah jenis apel yang tumbuh di dataran tinggi. Kamu mungkin juga mengenal saudara-saudaraku yang sebenarnya tumbuh di negara lain.

Di sini, aku berteman baik lho dengan sayur dan buah lainnya yang juga merupakan karya petani lokal. Ada jagung, bawang merah dan putih, kedelai, cabai dan masih banyak lagi. 

Buah memang jadi sajian favorit di negeri ini. Di momen tertentu, seperti hari raya, permintaan terhadapku dan teman-teman bisa meningkat hingga dua kali lipat!

Aku juga mendengar sebuah data yang mengatakan produksi buah mengalami peningkatan. 

Pada 2017 disebutkan jika jumlah produksi mencapai 19,6 juta ton sementara pada 2018, angkanya meningkat hingga 20,2 juta ton.

Buah yang Terbuang Sia-sia

Tapi kisahku tak selamanya indah. Dalam proses produksi ku, tak jarang juga masalah datang menghampiri.

Seperti misalnya, tak semua petani di tempatku hidup memiliki sumber daya untuk menyortir buah berdasarkan kualitas atau biasa disebut dengan grading

Mereka yang punya Sumber Daya Manusia (SDM) lebih banyak, bisa melakukan grading sendiri. Namun ternyata, itu juga berpengaruh terhadap ketahanan buah. Semakin sering buah dipegang untuk dilihat kualitasnya, ketahanan buah juga akan menurun dan berpotensi lebih cepat busuk.

Faktor cuaca juga dianggap memengaruhi kualitas buah lho teman-teman!. Belum lama ini, ada petani di Desa Bulukerto, Batu yang mengeluhkan sebanyak tiga ton dari apel yang dipanen berada dalam kondisi busuk.

Wah ternyata masalah tak berhenti di situ. Selanjutnya, buah-buah yang sudah disortir tadi akan dijual di pasar. Aku dan teman-teman akan dibagi dalam kelompok A, B, dan C sesuai dengan kualitas kami masing-masing. Teman-temanku dalam kelompok C memiliki kualitas yang paling rendah, harganya pun lebih murah.

Masalah pun muncul ketika buah di kelompok C tidak laku di pasaran. Demi membayar lapak yang sudah dipesan, maka beban kekurangan pemasukan dari kelompok C akan dilimpahkan ke kelompok A.

Hal inilah yang mengakibatkan buah yang berada di kelompok A, yang memiliki kualitas terbaik, menjadi sangat mahal. Saat diambil dari petani, aku berharga senilai Rp15 ribu. Nah, ketika sampai di pasaran, nilai melejit hingga Rp27 ribu!

Sedih rasanya ketika harga buah yang kian melejit mengakibatkan banyak dari teman-temanku yang tak laku terjual. Dampak yang sungguh terasa tentu adalah tingkat keterserapan buah yang datang dari petani hingga dijual di pasar.

Anak-anak Muda Kreatif Jadi Pahlawan

Aku dan teman-teman pun kian sedih. Di tengah kecemasan ini, kami menemukan poster pengumuman sebuah kompetisi.

Kompetisi ini diberi nama TaniHack. TaniHack mengajak anak-anak muda berbakat untuk berkreasi dan menyumbang ide dalam mendirikan sebuah Processing & Packing Center.

Processing & Packing Center bisa menjadi sebuah fasilitas yang berperan dalam memaksimalkan jumlah keterserapan buah setelah dipanen. Hal itu dikarenakan di dalam Processing & Packing Center juga akan dilakukan proses grading dengan menggunakan mesin, yang di mana bisa menjadi solusi untuk daya tahan buah yang lebih lama.

Ide-ide para peserta TaniHack tentu sangat berperan penting untuk kelangsungan hidup bagiku dan teman-temanku sesama komoditas petani lokal.

Selanjutnya, kami tak perlu lagi takut menjadi buah yang terbuang sia-sia. Kami juga tak perlu cemas akan harga kami yang membumbung tinggi akibat mekanisme pasar.

Karena pada akhirnya, hal paling menyenangkan menjadi buah adalah ketika bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
+ 67 = 76

shares