Keramahan yang Membius dari Pulau Beribu Pura

Keramahan yang Membius dari Pulau Beribu Pura

Tiba-tiba ingatan itu hadir kembali pada sebuah siang yang lembab di Desa Tumbak Bayuh. Empat bulan yang lalu saya menginjakkan kaki di pulau seribu pura ini. Membawa saya pada perjalanan magis yang tak bisa ditemukan di tempat lain di muka bumi. 

Bahkan di tanah para orang tua dan bebuyut saya lahir dan mati. Pulau ini hadir dengan cerita dan ikatan yang berbeda bagi setiap orang yang datang dan pergi.

Buat saya, datang ke sini adalah cara menantang sekaligus mewujudkan mimpi saya yang dianggap sebuah keterbatasan di kampung kelahiran saya di tanah Jawa. Baiklah, saya ralat, mungkin bukan sebuah wujud penentangan, melainkan tantangan yang harus saya lewati untuk menggenapi dahaga saya akan berkebun. 

Ya, berkebun, menanam, memberi makan bumi, menuai hasilnya, dan mengembalikannya.

Orang-orang sering mengernyitkan alisnya ketika mendengar keinginan saya yang satu itu. 

Ketika melihat latar belakang pendidikan dan profesi saya sebagai filmmaker, yang telah menikmati segala kenyamanan dari kehidupan perkotaan. Ekspektasi dalam benak mereka adalah seharusnya saya menetap di kota. 

Anak desa yang jauh pergi ke kota, seharusnya tak kembali lagi ke desa, tumbuhlah di kota, dan jadilah primadona.

Namun, saya tak punya sekali hasrat itu, ada panggilan yang terlalu lantang di telinga. Terlalu sulit juga untuk diabaikan. Saya punya keyakinan bahwa hal itu dapat terjadi jika saya ada di Bali. Saya ingin berkebun dan bertani di pulau dewa-dewi ini.

Awal perkenalan dengan Bali lagi-lagi tertolong oleh latar belakang profesi sineas saya. Mengerjakan beberapa proyek film, pelan-pelan membuat saya dapat berbaur dengan masyarakat Bali. Sisanya, tak begitu banyak usaha lagi. 

“Bali dan pernak-perniknya telah membuka jendela lebar-lebar dan mempersilakan saya untuk mengerti pulau ini lebih jauh.”

Bahkan untuk hal-hal yang dibicarakan secara terbuka hingga berbisik.

Di situlah saya merasakan jika keterbukaan dan keramahan masyarakat Bali dapat mendukung aktivitas pertanian yang sulit saya wujudkan bahkan di Lamongan, kampung halaman saya sendiri. 

Bali dan Lamongan memang berbeda, mereka punya keunikannya masing-masing yang sudah diturunkan dari kebiasaan nenek moyang hingga memengaruhi kegiatan bertani mereka. 

Ketika di Lamongan, berkebun jenis tumbuhan alpukat dan durian dianggap hampir tidak masuk akal. Hal itu tidak dapat seratus persen disalahkan. Selalu ada yang bisa dijelaskan dari alasan tersebut. 

Rupanya beragam faktor seperti durasi panen yang menahun, serta kebiasaan masyarakat sekitar yang hampir 80% menanam padi yang biasanya hanya memiliki masa tanam sekitar 3-4 bulanlah alasannya.

Tentu wajar jika berkebun alpukat dan durian dianggap sebuah problematika. Budaya dan kebiasaan telah membentuk pola pikir masyarakat di sebuah wilayah yang secara sadar atau tidak melekatkan mereka pada pandangan yang dipercaya oleh orang terdahulu.

Bali? Bali juga punya rasam sendiri. Bali lebih banyak memberi kebebasan bagi saya. Kebebasan yang menumbuhkan. Di pulau ini saya menemukan beberapa kenalan yang membantu saya untuk menentukan titik-titik lahan berkebun. Hingga detik ini, lahan kebun cokelat yang sudah tidak terpakai di Desa Taman dan Desa Mangesta nantinya bisa menjadi tempat bagi beragam varietas alpukat dan sayur-sayuran yang akan dibudidayakan. Kala alpukat dan durian menunggu panen, agar dapat membiayai perawatannya, saya mengakalinya dengan menanam sayur-sayuran yang waktu panennya lebih singkat. 

Melihat keramahan yang ditawarkan Bali bagi para pendatang baru, membuat saya sadar, perasaan diterima di pulau inilah yang sebenarnya membuat setiap orang yang datang selalu merasa diterima dan ingin datang kembali.

Rasa syukur masyarakat Bali juga menjadi sebuah ketenangan bagi para pendatang. Mereka merefleksikannya dengan mensyukuri tiap hasil alam pada tiap ritual ibadah yang dilaksanakan saat memulai bercocok tanam atau setelah melakukan panen. 

Bercermin dari situ, saya percaya, pekerjaan berkebun yang dilakukan para petani di negeri ini juga perwujudan dari bentuk syukur mereka pada apa keramahan yang diberikan alam kepada manusia. 

oleh 

Muhammad Benny Prasetiya

Seorang Sineas yang mencintai aktivitas berkebun

Sebuah tulisan yang diolah oleh tim TaniHub, hasil dari wawancara komprehensif yang dilakukan dengan narasumber terkait. Topik yang dibawakan beragam dan menggunakan sudut pandang dari narasumber langsung untuk membawakan cerita secara lebih dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
9 + 1 =

shares