Petani Kejar Impian Dengan Budidaya Bersama TaniFund

Petani Kejar Impian Dengan Budidaya Bersama TaniFund

Tanihub.com – Kepuasan seorang petani tidak hanya diukur melalui panen yang terserap di pasar dengan harga yang baik. Petani dapat tersenyum lebih lebar jika bisnisnya dapat berkembang lebih besar, sehingga mencapai level yang layak secara komersial (commercially viable).

Demikianlah impian yang diungkapkan Egi Gunawan, petani muda berusia 27 tahun dari Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ketika berbincang-bincang dengan tim dari TaniGroup (TaniHub dan TaniFund) setelah aktivitas Tanam Perdana Cabai Merah Keriting pada awal bulan Mei 2019.

Egi dan kelompok taninya, Guna Tani, yang didirikan pada 2017, telah bekerja sama dengan TaniFund melalui pengembangan budidaya tomat TW, yang panen perdananya telah berlangsung pada akhir bulan Mei 2019. Sebelum bergabung dengan program TaniFund, Egi dan rekan-rekannya telah sukses menanam berbagai macam sayuran atau palawija lainnya, yaitu mentimun, kacang panjang, terung, buncis, dan peria (pare).

Egi Gunawan (tengah) berdiskusi dengan tim TaniGroup (TaniHub & TaniFund) di tengah lahan budidaya tomat di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. – Foto oleh Bhisma Adinaya/TaniGroup

Egi sebelumnya juga aktif membantu kelompok tani lainnya yang fokus membudidayakan manggis sejak lama dan mengekspor buah tersebut ke beberapa negara.

Kendati para petani di daerahnya aktif dengan kegiatan mereka, Egi melihat masih ada ketidakpuasan di antara mereka terhadap keadaan saat ini.

“Petani-petani di kelompok tani yang lain juga pingin keadaan yang lebih baik. Makanya mereka bilang: ‘urang arek kieu wae? Ulah atuh, ulah kieu-kieu wae.’ [kita mau gini-gini aja? Jangan lah, jangan gini-gini aja],” kata Egi.

Berbagai permasalahan di lapangan

Menurut Egi, keterbatasan akses ke permodalan serta pemasaran produk adalah masalah utama para petani pada umumnya. Dengan terbatasnya akses ke permodalan, petani tidak memiliki daya untuk mengembangkan bisnisnya secara komersial atau naik tingkat ke skala usaha lebih besar.

Pengetahuan yang terbatas tentang pemasaran produk juga membuat para petani terkadang ragu untuk menanam dalam jumlah yang lebih besar. Sebab, tanpa adanya kepastian bahwa hasil tani mereka akan seluruhnya diserap oleh pasar, petani akan selalu khawatir bahwa tidak akan ada yang membeli produk mereka.

“Tapi itu sebenarnya karena mereka tidak melihat [kondisi di] pasar. Di pasar itu [suplai hasil tani] 1 ton sampai 2 ton sehari sebenarnya masih kurang; namanya juga permintaan pasar [yang biasanya tidak sedikit],” kata Egi.

Egi Gunawan (kiri) beserta ayahanda sedang berjalan di lahan cabai merah keriting di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. – Foto oleh Aldy Ramadiansyah/TaniGroup

Pentingnya tertib administrasi

Namun, tidak hanya permodalan dan pemasaran yang menjadi kendala bagi petani untuk mengembangkan bisnisnya. Menurut Egi, seringkali hal yang menghambat mereka untuk berkembang adalah kebiasaan mereka sendiri. Kebiasaan itu dapat ditemui di hampir semua petani di seluruh negeri, yaitu bertani dengan metode yang tradisional. Sebagai contoh, petani lokal kerap kali tidak melakukan pencatatan rutin untuk operasionalnya, baik pemasukan maupun pengeluaran. Bahkan, seringkali petani tidak memisahkan dana pribadinya dari dana operasionalnya.

Egi, yang sempat bekerja di sektor ritel selama lima tahun, menganggap tertib administrasi sebagai kunci bagi petani untuk dapat mengelola usahanya secara lebih profesional. Pada dasarnya, petani adalah pengusaha yang harus mengembangkan bisnisnya ke tingkat komersial, atau menjadi sebuah “perusahaan” atau badan usaha. Dengan memiliki status badan usaha, petani akan lebih mudah mendapatkan akses permodalan dan jaringan pemasaran. Dengan berbasis data, petani dapat lebih baik dalam melakukan perencanaan untuk usahanya, sehingga dapat meraih keuntungan yang lebih besar dan menyejahterakan dirinya serta tenaga kerja yang dia pekerjakan.

“Sekarang administrasi kita [kelompok tani setempat] mulai dilengkapi. Hari ini kita panen berapa, kita tulis. Biar ketauan progress-nya ke mana. Misalnya sekarang naiknya cuma 20 persen, akan jadi pemacu agar tahun depan bisa lebih lagi, seperti itu. Jadi pingin-nya kita bisa jadi perusahaan,” kata Egi.

Egi Gunawan (kanan) bersama anggota Kelompok Tani Guna Tani dan tim TaniGroup (TaniHub & TaniFund) berfoto di lahan budidaya cabai merah keriting di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. – Foto oleh Aldy Ramadiansyah/TaniGroup

Egi meyakini, TaniFund berperan penting dalam menyejahterakan petani karena membuka akses pembiayaan melalui program budidaya tanaman pertanian. Untuk setiap program budidaya, kelompok tani mitra TaniFund dapat menghitung dan merencanakan dengan rinci kebutuhan biaya operasional dari sebelum masa tanam hingga saat panen. Setelah panen, TaniHub, sister company TaniFund yang bergerak di pemasaran hasil tani secara offline maupun online dapat menjadi solusi, sehingga petani tidak perlu khawatir apakah hasil taninya dapat terserap seluruhnya.

Anda dan semua lapisan masyarakat dapat mendukung Egi dan para petani lokal lainnya agar mereka tersenyum lebih lebar dengan cara menyalurkan dana Anda melalui TaniFund, yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Bentuk lain dukungan yang dapat Anda berikan adalah menikmati produk-produk dari petani lokal dengan hanya beberapa klik saja di ponsel pintar Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Math Captcha
1 + 2 =

shares