Catatan Perjalanan: Bali yang Tak Pernah Benar-Benar Jauh

Catatan Perjalanan: Bali yang Tak Pernah Benar-Benar Jauh

Sebuah tulisan bagian pertama oleh Ilham Rahmanda Dony merespon pengalaman dan nilai-nilai yang ia temui saat mengunjungi Pulau Dewata. Catatan ini di tulis dalam perjalanannya dalam pembuatan video dalam rangka Grand Opening Cabang TaniHub di Bali, 30 Januari nanti.

Bagian I

Janji-janji manis jika Bali akan membuat saya terpukau menggema di telinga saya jelang keberangkatan menuju Pulau Dewata.

Bali mereka gambarkan sebagai tempat untuk bermimpi. Mengkhayalkan keagungan dari Sang Pencipta lewat sajian hamparan alam yang luar biasa istimewa.

Bali juga, mereka sebut sebagai rumah keabadian dari rantai budaya yang sudah saling menyambung lintas generasi. 

***

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WITA ketika saya membuka mata. Sorot sinar mentari pagi yang mulai mencolok perlahan menyelinap masuk ke kamar hotel saya melalui tirai jendela yang tak tertutup sempurna. 

Terbangun pagi hari di Bali merupakan pengalaman baru bagi saya. Sudah sejak pagi hari, udara Bali terasa hangat, dan tentu akan bertambah panas saat siang nanti. Saya pun sudah banyak mendengar jika transisi dari pagi ke siang di Bali seperti terasa lebih cepat. Tapi ketika beranjak dari sore ke malam, waktu terasa bergerak lambat.

Saya tak bisa bersantai karena pekerjaan yang sesungguhnya sudah menanti di Pulau Dewata. Saya bertanggung jawab untuk mendokumentasikan acara soft launching pembukaan cabang baru TaniHub Group di Denpasar.

Acara berjalan dengan lancar dan efektif. Memasuki tengah hari, acara selesai dan ditutup dengan makan siang bersama. Tak banyak kegiatan yang saya lakukan pada hari pertama saya berada di Bali. Tapi urusan saya di Pulau Dewata tak berhenti sampai di situ. 

Berawal di Ubud dan Jatiluwih

Keesokan harinya, saya kembali harus bangun pagi. Kali ini saya harus pergi meninggalkan Denpasar menuju Ubud untuk mewawancarai narasumber saya dari Ubud Food Festival.

Banyak yang mengatakan jika Ubud memiliki lanskap yang lebih menarik dari Denpasar yang memang sudah sedemikian berkembang sebagai ibu kota provinsi. Ubud kerap digambarkan di berbagai media melalui hamparan terasering sawah hijau yang membentang lengkap dengan para petani yang tengah bekerja di dalamnya. Sayangnya karena diburu waktu, tak banyak yang saya perhatikan dalam perjalanan saya menuju Ubud.

Suasana pedesaan memang lebih terasa di Ubud dibandingkan di Denpasar. Rumah-rumah bernuansa khas Bali pun lebih banyak ditemui di sana. Sesekali terlihat turis berlalu-lalang sambil berboncengan menggunakan sepeda motor. 

Namun bagi saya, ada satu hal lagi yang menarik dari Ubud. Kota ini bisa menjawab kekhawatiran saya akan sulitnya menemukan tempat untuk menunaikan ibadah Salat Jumat.

Yayasan Ubudiyah adalah jawabannya. Saya menggambarkan tempat ini sebagai sebuah masjid yang belum sepenuhnya selesai dibangun. Baik dinding dan langit-langitnya masih berbalutkan semen. Namun, satu hal yang melegakan saya adalah toilet dan tempat bersucinya yang luar biasa bersih!

Uniknya lagi, petugas di masjid tersebut membagikan segelas es campur gratis kepada setiap orang yang ada di sana setelah ibadah salat Jumat selesai digelar. 

Rasa haus memang berhasil terhapuskan tapi tidak dengan rasa lapar yang sudah saya rasakan sejak tadi.

Melalui media sosial, saya mencoba menemukan sajian khas Bali dengan lokasi terdekat. Saya pun menemukan rumah makan nasi campur ayam betutu yang lokasinya sangat dekat dari tempat saya saat itu.

Sesuai tampilannya di foto, makanan ini memanglah terasa pedas. Potongan cabai serta kacang yang menjadi topping khas sajian Bali ikut menghiasi piring makanan saya yang diantar oleh pelayan. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WITA. Saya pun bergegas memulai survei lokasi produksi video TaniHub yang memang menjadi tujuan utama saya di Bali. Survei pertama saya awali dari tempat wisata terasering sawah di Jatiluwih. 

Menempuh jarak dengan durasi sekitar satu jam lebih dari Ubud, saya menikmati perjalanan saya menuju Jatiluwih meski hujan deras ikut mengguyur jalanan. Suasana pedesaan kembali saya rasakan kali ini. Sesekali saya menjumpai sawah-sawah berukuran kecil yang berada di antara rumah-rumah pemukiman warga. Saat hujan mulai mereda, warga lokal perempuan pun tampak berlalu-lalang di pinggir jalan. Mereka mengenakan atribut pakaian tradisional Bali sambil membawa baskom berisikan buah atau sayur di atas kepala.

Mata saya benar-benar dimanjakan oleh pemandangan hijau terasering yang mengagumkan. Deretan terasering di sana tersusun dengan sangat rapi seperti tanpa cacat sama sekali. Sesekali saya melihat petani sedang bekerja, memotong rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar sawah. Turis-turis di dekat saya pun tampak mengabadikan pemandangan ini melalui ponsel mereka.

Saat saya berada di lokasi yang lebih tinggi, saya dimanjakan oleh hijaunya sawah yang terbentang secara menyeluruh. Suasana akan jadi lebih magis, kala matahari mau menampakkan diri, pikir saya waktu itu.

Sebenarnya, saya berharap bisa melihat instalasi patung Dewi Sri yang dibuat dari bambu yang memang terkenal di Jatiluwih. Sayang, ketika sampai di sana, instalasi tersebut sedang dalam perbaikan sehingga perlu dipindahkan dari tempatnya.

Waktu yang kian sore pun memaksa saya untuk kembali pulang. Jatiluwih menjadi penanda keindahan lainnya dari Pulau Dewata, yang selama ini memang dikenal akan berbagai pantainya yang mendunia.

Hari selanjutnya, tugas saya benar-benar dimulai. Teman saya yang juga seorang videografer, Hans Oswara tiba di Bali. Tak lama setelah menjemput Hans di bandara, kami bergegas mempersiapkan diri untuk proses perekaman adegan tarian Bali yang diperagakan oleh salah seorang kenalan kami di sana. 

Pantai Mertasari menjadi lokasi pilihan kami sebagai tempat pengambilan video. Sejatinya, Mertasari merupakan sebuah pantai yang sepi dari turis asing. Pantai ini justru lebih banyak dikunjungi oleh warga sekitar yang hendak bermain di air laut yang terlihat sangat tenang itu. Tampak pula sekelompok orang yang juga sedang bekerja merekam video, sama seperti kami;

Kami memilih spot dengan sebuah dermaga sebagai latarnya. Diiringi musik tradisional Bali melalui speaker, sang penari pun mulai bergoyang mengikuti irama. Dipadukan dengan langit Bali yang berwarna kelabu karena dirundung mendung, suasana sore itu di Mertasari sungguhlah berkesan untuk terus diingat.

Jagung bakar di sekitar area pantai seolah terus-menerus memanggil hingga akhirnya kami mendapati diri kami duduk nongkrong bersama jagung bakar pedas sambil menatapi langit Sanur yang mulai temaram. Cerita tentang kehidupan pribadi masing-masing menemani setiap gigitan jagung yang gurih ini.

Tapi, momen yang lebih spesial sudah menanti saya di hari esok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Math Captcha
59 − 50 =

shares