Catatan Perjalanan: Bali yang Tak Pernah Benar-Benar Jauh II

Catatan Perjalanan: Bali yang Tak Pernah Benar-Benar Jauh II

Sebuah tulisan bagian kedua oleh Ilham Rahmanda Dony merespon pengalaman dan nilai-nilai yang ia temui saat mengunjungi Pulau Dewata. Catatan ini di tulis dalam perjalanannya dalam pembuatan video dalam rangka Grand Opening Cabang TaniHub di Bali, 30 Januari nanti.

Bagian Ke II

Ramayana Kala Senja

Saya menggambarkan hari keempat saya di Bali sebagai puncak dari perjalanan saya. Kami berencana meliput pementasan tari kecak di Pura Luhur Uluwatu yang terkenal itu. Menuju Pura Luhur Uluwatu yang terletak di Kabupaten Badung bukanlah perkara mudah. Kami harus menempuh perjalanan kurang lebih selama satu setengah jam. Dengan hanya bermodalkan petunjuk dari peta online di handphone dan pengetahuan soal jalanan Bali yang sangat dangkal, kami cukup nekat untuk bisa melihat langsung pementasan tersebut.

Tapi usaha memang tak pernah membohongi hasil. Meski awalnya kami hampir tersesat karena mengira jika pementasan tari kecak akan dilakukan di pantai, kami akhirnya bisa benar-benar tiba di Pura Luhur Uluwatu.

Saat kami tiba, suasana di sana sudah ramai. Loket pembelian tiket sudah dipenuhi antrean para turis meski waktu pementasan baru akan dimulai pada satu jam ke depan. Beragam paras dan rupa terlihat antusias di sana. Ada rombongan keluarga dari India yang belakangan duduk dekat dengan saya saat pementasan berlangsung. Banyak pula pasangan muda-mudi yang sepertinya berasal dari Australia atau AS ikut mengantre di sana.

Selayaknya sebuah rumah ibadah, sebelum memasuki area pura, atribut kami pun harus menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di sana. Pihak penyelenggara menyediakan kain untuk dipakai saat menyaksikan pementasan tari kecak. 

Saya dan Hans mendapat tempat duduk paling depan. Awalnya kami mengira kesempatan duduk di barisan paling depan adalah hal yang bagus. Namun ternyata anggapan itu tak sepenuhnya benar karena belakangan kami sadar jika jarak yang terlalu dekat membuat kami tak bisa melihat para penari kecak yang tampil secara keseluruhan. Terutama di saat ketika para penari mulai duduk membentuk formasi.

“Cak cak cak cak

Cak cak cak cak

Cak cak cak cak…!”

Suara para penari yang bergemuruh perlahan keluar dan seketika mampu membius perhatian para penonton yang sudah menunggu sedari tadi. Satu per satu para penari pria itu keluar. Sambil bertelanjang dada mereka bernyanyi dengan lantang dan saling bergantian hingga menghasilkan irama tertentu. Mereka sudah terlihat sangat khusyuk sejak memasuki area pementasan.

Sambil tetap bernyanyi dan saling bersahut-sahutan satu sama lain, mereka mulai duduk membentuk formasi melingkar. Tapi yang membuat pementasan tari kecak ini semakin menarik adalah cerita drama Ramayana yang dibawakan di dalamnya. Jika di awal kemunculan, para penari ini seperti menjadi penampil utama, belakangan, mereka pun seperti ikut mengiringi jalannya cerita Ramayana terutama setelah para pemerannya menampakkan diri.

Kemunculan Hanoman putih tentu paling menyita perhatian! Bagaimana tidak, kemunculannya benar-benar tak disangka oleh penonton. Ia muncul sambil memanjat salah satu bagian dinding pura. Ia kemudian meloncat-loncat ke tengah-tengah penari, menimbulkan suara riuh di sebagian penonton. 

Suasana semakin heboh karena Hanoman juga ikut menghampiri para penonton yang ada. Ia beberapa kali memeluk, berpura-pura mengejek, sampai beradegan mencari kutu di rambut salah seorang turis. Ekspresi penonton pun beragam. Ada yang sungguh terlihat geli tertawa. Tapi ada juga yang tampak kaget sambil berharap Hanoman tidak datang mendekati mereka.

Suasana pementasan tari kecak pun kian syahdu, seiring dengan langit senja yang berwarna jingga kemerahan mengiringi kepulangan matahari ke peraduannya  . Akhir dari cerita drama Ramayana menutup pementasan Tari Kecak hari itu.

Secara tertib para penonton pun mulai meninggalkan lokasi pura. Dan ternyata area tersebut memang harus segera dikosongkan setelah pementasan selesai. Saya pun sempat ditegur oleh petugas saat masih duduk-duduk beristirahat di dekat mobil dan diminta untuk segera pergi.

Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir kali saya menyaksikan sebuah pementasan tari tradisional Indonesia hingga selesai. Tapi apa yang baru saja saya saksikan di Pura Uluwatu benar-benar menembus batas kewajaran di dalam nalar saya.

Sebuah pementasan tarian yang sederhana tapi benar-benar mampu menimbulkan rasa merinding bagi siapa saja yang menyaksikannya. Sebuah pementasan persembahan dari muda-mudi Indonesia yang nyatanya mampu menyatukan perasaan para pelancong mancanegara yang sudah ikut duduk manis menyaksikannya. Lebih dari sekadar pementasan, ini jugalah merupakan sebuah pemersatu.

Rona Fajar Tamblingan

Keesokan harinya, saya sudah mencapai anak tangga terakhir dalam perjalanan saya di Bali. Tak terasa memang. Menginjakkan kaki di sebuah tanah yang belum pernah saya jamah sebelumnya, dan langsung dijejali dengan sajian budaya yang seolah tak ada habisnya, membuat waktu seperti tak berlaku di sini.

Tapi, saya tak ingin kesia-siaan mengisi hari terakhir saya di Bali.

<blockquote class=”instagram-media” data-instgrm-permalink=”https://www.instagram.com/p/B5wZTCSg-2W/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading” data-instgrm-version=”12″ style=” background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% – 2px); width:calc(100% – 2px);”><div style=”padding:16px;”> <a href=”https://www.instagram.com/p/B5wZTCSg-2W/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading” style=” background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;” target=”_blank”> <div style=” display: flex; flex-direction: row; align-items: center;”> <div style=”background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;”></div> <div style=”display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;”> <div style=” background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;”></div> <div style=” background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;”></div></div></div><div style=”padding: 19% 0;”></div> <div style=”display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;”><svg width=”50px” height=”50px” viewBox=”0 0 60 60″ version=”1.1″ xmlns=”https://www.w3.org/2000/svg” xmlns:xlink=”https://www.w3.org/1999/xlink”><g stroke=”none” stroke-width=”1″ fill=”none” fill-rule=”evenodd”><g transform=”translate(-511.000000, -20.000000)” fill=”#000000″><g><path d=”M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631″></path></g></g></g></svg></div><div style=”padding-top: 8px;”> <div style=” color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;”> View this post on Instagram</div></div><div style=”padding: 12.5% 0;”></div> <div style=”display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;”><div> <div style=”background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);”></div> <div style=”background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;”></div> <div style=”background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);”></div></div><div style=”margin-left: 8px;”> <div style=” background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;”></div> <div style=” width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)”></div></div><div style=”margin-left: auto;”> <div style=” width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);”></div> <div style=” background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);”></div> <div style=” width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);”></div></div></div> <div style=”display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;”> <div style=” background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;”></div> <div style=” background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;”></div></div></a><p style=” color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;”><a href=”https://www.instagram.com/p/B5wZTCSg-2W/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading” style=” color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;” target=”_blank”>A post shared by TaniHub (@tanihub)</a> on <time style=” font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;” datetime=”2019-12-07T03:31:10+00:00″>Dec 6, 2019 at 7:31pm PST</time></p></div></blockquote> <script async src=”//www.instagram.com/embed.js”></script>

Jam 3 pagi, bersama dengan Hans dan seorang teman yang juga memang orang asli Bali, Gusi Kanjeng Yuichiro, kami bergegas menuju suatu tempat yang dianggap oleh masyarakat Bali sebagai destinasi yang wajib dikunjungi untuk menyaksikan matahari terbit.

Namun kali ini bukanlah sebuah pantai ataupun sawah.

Danau Tamblingan memanggil kami untuk menyaksikan sendiri keajaiban yang ditawarkannya saat fajar menyingsing.

Terletak di Kabupaten Buleleng, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Denpasar, banyak masyarakat Bali yang kami temui mengatakan jika mengunjungi Danau Tamblingan adalah sebuah keharusan.

Bayangkan, Anda bakal dapat menyaksikan mentari perlahan keluar dari peraduannya. Lalu sinarnya mulai menyentuh permukaan danau yang tenang, setelah sebelumnya berhasil menciptakan siluet maksimal dari sebuah pura yang juga ada di dekat sana. 

Gambaran pemandangan seperti itulah yang menggerakkan kaki saya menuju Danau Tamblingan.

Saya tiba di sana sekitar jam 04.00 WITA. Udara di sana dingin karena memang terletak di lereng sebelah utara Gunung Lesung. Untuk bisa mencapai lokasi danau, kami memarkir mobil di tempat yang tersedia dan melanjutkan dengan berjalan kaki.

Saat itu tentu saja masih gelap sekali. Bayangan pohon-pohon tinggi, bunyi-bunyian daun kering yang kami injak serta suara jangkrik yang bersahutan membuat saya sadar jika kami sedang melewati sebuah hutan. 

Hingga akhirnya kami dihadapkan pada sebuah hamparan luas yang dikelilingi oleh barisan bukit. Suasana saat itu sunyi sekali. Tanpa bunyi kendaraan apapun, yang terdengar hanyalah napas kami yang cukup tersengal setelah berjalan kaki.

Beberapa perahu tak bertuan terlihat menepi di sekitar danau. Sayup-sayup suara burung mulai terdengar menggema memecah kesunyian. Sebuah bangunan pura yang cukup tua berdiri gagah di pinggir danau, perlahan menahan pendar mentari yang semakin berpijar, menciptakan siluet terbaik yang hanya bisa ditangkap oleh ingatan.

Salah satu suasana subuh paling indah yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saya pun duduk di salah satu perahu yang sudah basah oleh embun pagi. Merenungkan apa saja yang sudah saya lalui di Pulau Dewata sambil menikmati suara lembut Norah Jones dalam tembang Don’t Know Why miliknya yang tersohor itu.

Lagi-lagi waktu menunjukkan kuasanya untuk mengakhiri ini semua. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WITA, yang menandakan bahwa saya tak bisa berlama-lama lagi berada di Danau Tamblingan. 

Ada pesawat yang harus saya kejar. Ada keluarga yang harus saya beri kabar.

Dalam langkah kecil saya saat meninggalkan Danau Tamblingan, pikiran saya mulai bercabang, membayangkan lagi hal-hal menarik yang disajikan pulau ini kepada saya, si debutan.

Berada lebih dari satu malam di Bali, membuat sang pulau agung seperti tak pernah benar-benar jauh dari saya. Bali seperti mampu menyamarkan rasa tak aman menjadi nyaman.

Sebaik-baiknya tempat adalah yang mampu mendulang rasa rindu. Bali pun begitu. Dan Bali adalah candu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Math Captcha
45 − 41 =

shares