Budaya Pertanian Indonesia: Sengkedan & Manfaatnya

Budaya Pertanian Indonesia: Sengkedan & Manfaatnya

Indonesia merupakan negara agraris, hal ini terlihat dari sistem budaya pertanian yang masih dipertahankan sejak dahulu kala. Sudah terbukti, bahwa sejak dahulu kala Indonesia telah menggantungkan kehidupannya pada aspek pertanian. Beberapa budaya pertanian tersebut masih dapat kita jumpai hingga saat ini di beberapa daerah di Indonesia.

Perbedaaan kondisi geografis perkotaan yang berbeda-beda membuat budaya pertanian juga mengalami banyak perbedaan yang sangat terlihat. Biasanya di beberapa daerah yang memiliki dataran yang cukup rendah, kita dapat melihat persawahan yang terhampar di lahan yang datar dan memiliki ruang tanam yang cukup luas. Sehingga sistem pertanian mudah dijalankan di persawahan tersebut.

Berbeda dengan dataran rendah, di daerah yang memiliki dataran lebih tinggi seperti pegunungan, biasanya memiliki sistem pertanian yang berbeda pula. Biasanya pertanian di dataran tinggi menggunakan sistem berundak-undak atau yang biasa lebih kita kenal dengan nama sengkedan atau terasering. Sengkedan atau terasering ini memang lazim digunakan untuk lahan bercocok tanam, terutama padi. 

Seiring berjalannya waktu, sistem terasering atau sengkedan ini juga beralih fungsi menjadi manfaat lain. Biasanya terasering atau sengkedan ini sering digunakan oleh masyarakat setempat untuk konservasi lingkungan serta mencegah bencana alam.

Baca juga: Subak, Sistem Pertanian Indonesia asal Bali

Berikut merupakan tujuh manfaat dari sengkedan.

  1. Sebagai lahan konservasi: Untuk menjaga keseimbangan alam sekitar, biasanya masyarakat setempat akan menanam pohon-pohon yang cukup kuat di sekitar sengkedan. Hal ini bertujuan untuk mencegah tanah longsor serta menambah penghijauan di lingkungan sekitar.
  2. Memperluas lahan pertanian: Biasanya sedikit sulit untuk mencari lahan tanam di daerah pegunungan ataupun lereng-lereng pegunungan. Maka dari itu, sengkedan dibuat agar wilayah di sekitar pegunungan menjadi lebih produktif dan tidak kesulitan untuk memenuhi pasokan bahan pangan. Biasanya warga sekitar akan menanam padi serta beberapa tanaman palawija.
  3. Mencegah tanah longsor: Seperti yang kita ketahui, tanah di dataran tinggi rawan terkena bencana longsor. Dengan dibuatnya sengkedan di wilayah tersebut akan mencegah bencana tersebut karena tanah dibuat berundak dan memiliki pondasi yang kuat dan lebih stabil.
  4. Menambah resapan air: Dengan dibuatnya sengkedan maka akan menambah lahan lain untuk meresap air yang masuk ke dalam tanah. Selain itu juga, lereng yang tadinya curam telah berubah menjadi datar sehingga peresapan air ke dalam tanah akan lebih maksimal.  
  5. Mengurangi tingkat kecuraman lereng: Tanah yang tadinya curam, telah berubah menjadi lahan datar yang produktif. Dengan demikian, maka akan meminimalisir bencana alam.
  6. Memperlambat kecepatan air: Biasanya, pada musim penghujan debit air hujan yang jatuh ke tanah akan lebih deras. Ini akan berbahaya bagi daerah pegunungan atau lereng, hal ini akan berakibat bencana longsor. Terasering atau sengkedan akan membantu memperlambat debit air hujan yang terserap ke dalam tanah.
  7. Dapat dijadikan lahan datar: Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sedikit susah untuk mencari lahan tanam di daerah pegunungan. Dengan dibuatnya sengkedan ini maka para petani setempat akan lebih mudah untuk mendapatkan lahan tanam datar yang tidak memiliki kecuraman untuk bercocok tanam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
40 − 32 =

shares