Bertani di Jakarta Kota Metropolitan, Mungkinkah? Ini Kata Gubernur DKI Jakarta

Bertani di Jakarta Kota Metropolitan, Mungkinkah? Ini Kata Gubernur DKI Jakarta

Jakarta merupakan kota metropolitan yang tidak pernah berhenti beraktivitas. Selama 24 jam, kehidupan di Jakarta terus berjalan. Modernisasi serta globalisasi membuat kehidupan sosial-ekonomi di Jakarta juga memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan hal itu, banyak warga dari pedesaan dan luar Jakarta melakukan urbanisasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di Jakarta. 

Masuknya warga kota lain ke Jakarta, membuat populasi di kota ini mengalami peningkatan yang cukup drastis. Menurut data dari BPS (Badan Pusat Statistik) menyatakan bahwa jumlah penduduk di DKI Jakarta per Maret 2019 sudah mencapai angka 10.6 juta jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang semakin meningkat mulai tidak sepadan dengan kondisi wilayah Jakarta yang tidak mampu menampung warga yang semakin membludak.

Banyak tempat-tempat terpelosok di Jakarta yang mulai dihuni oleh penduduk, mulai dari gang gang sempit hingga rumah rumah yang bertahan di balik gedung pencakar langit. Sudah banyak solusi yang dilakukan dari pemerintah pusat maupun provinsi untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, ledakan penduduk yang masih serta tidak adanya lahan membuat beberapa solusi ini mustahil dijalankan.

Menurut Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam kegiatan TaniFest yang diselenggarakan pada tanggal 24 September lalu mengatakan bahwa, 92% kawasan di DKI Jakarta sudah tertutup oleh bangunan bangunan tinggi. Hal ini membuat kawasan Jakarta terlihat penuh oleh bangunan serta gedung-gedung pencakar langit yang menghampar. Hal lain yang menjadi fokus adalah, susahnya bagi warga DKI Jakarta untuk mendapatkan akses lahan hijau.

Lahan hijau sangat dibutuhkan oleh warga DKI Jakarta yang selalu hidup dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi serta polusi kendaraan yang selalu menemani setiap hari. Hal ini membuat Gubernur DKI Jakarta menciptakan program yang sangat bermanfaat bagi seluruh warga DKI, yaitu membangun banyak taman-taman kota setiap tahun.

Tidak hanya itu, kepedulian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap lingkungan telah dibuktikan dengan meresmikan tempat untuk melakukan kegiatan urban farming di kawasan Balai Kota DKI Jakarta. Tempat ini juga dikenal dengan nama Balkot Farm. Balkot Farm sendiri tercipta berkat kerjasama dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Dinas Kelautan DKI Jakarta, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Bukan hanya kepedulian terhadap lingkungan, Balkot Farm  tercipta karena ada tujuan lain. Public education menjadi salah satu concern utama terhadap Balkot Farm ini, mengapa? Karena banyak warga DKI Jakarta yang belum memahami dan mengerti proses dibalik kehidupan yang serba instan ini. Banyak warga DKI Jakarta yang tidak mengetahui bagaimana proses panjang dari makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari, mulai dari pembenihan hingga masa panen. Diharapkan dengan terciptanya Balkot Farm ini, banyak warga DKI yang semakin memahami dan menghargai proses panjang dari proses produksi pertanian.

Balkot Farm sendiri juga mengaplikasikan teknologi bagi para warga yang hadir. Pada setiap tanaman yang ada di Balkot Farm tersedia QR Code yang dapat dipindai untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai tanaman tersebut. Dengan adanya hal ini, diharapkan warga mampu memahami dan peka terhadap isu-isu pertanian. Masalah pertanian, menjadi hal yang universal dan dapat dicintai oleh semua lapisan masyarakat.

Urban Farming yang dilakukan oleh Balkot Farm sendiri banyak menggunakan metode vertikal serta hidroponik. Metode ini tidak menggunakan banyak lahan tanam serta akan menghasilkan lebih banyak hasil. Anies Baswedan sendiri berharap bahwa nantinya banyak warga DKI Jakarta yang mulai sadar dan peka terhadap lingkungan sekitar dan mau untuk melakukan urban farming di lingkungannya masing-masing. Hal ini akan memberikan banyak dampak positif bagi warga dan lingkungan.

Selain itu Anies Baswedan juga mengatakan bahwa ada 4 tingkat evolusi kota di dunia ini. Tingkat evolusi tersebut antara lain adalah:

  • City 1.0 : Pemerintah kota sebagai administrator, warga sebagai penghuni.
  • City 2.0 : Pemerintah kota sebagai penyedia jasa, warga sebagai konsumen.
  • City 3.0 : Pemerintah kota sebagai Fasilitator, warga sebagai partisipan.
  • City 4.0 : Pemerintah kota sebagai kolaborator, warga sebagai ko-kreator

Pada saat ini, banyak kota yang masih berada di tingkat city 3.0 namun Jakarta sudah mulai masuk ke tingkat city 4.0. Nantinya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menginginkan kolaborasi antara Pemerintah serta Swasta atau warga untuk menjalankan kebijakan-kebijakan perkotaan yang memiliki dampak positif bagi semua warga. Termasuk isu lingkungan serta pertanian di DKI Jakarta.

Dalam kegiatan TaniFest yang diselenggarakan pada tanggal 24 September 2019 lalu, Gubernur DKI Jakarta mengatakan ingin menggandeng TaniHub sebagai perusahaan start-up di bidang agrikultur untuk bersama-sama menjalankan program city 4.0. Nantinya akan ada banyak lahan terbuka hijau yang bisa ditanami berbagai tanaman sayur dan buah yang bermanfaat untuk seluruh warga DKI Jakarta.

Masa kini, semua bisa jadi petani.

#SayaJugaPetani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Math Captcha
10 + = 11

shares